Jumat, Januari 04, 2013

Dzikr dan ‘Ilmu Hudhuriy

Dzikr dan ‘Ilmu Hudhuriy
Dzikr dan ‘Ilmu Hudhuriy

Dalam setiap ‘ilmu ada tiga hal; subyek yang mengetahui (‘alim), obyek yang diketahui (‘ma’lumaat) dan tindak (baca pula; predikat) mengetahui. ‘Ilmu disebut hudhuriy jika subyek yang mengetahuinya identik dengan obyek yang diketahuinya. Pemikir identik dengan yang dipikirkan. Ittihade ‘aaqil wa ma’qul. Atau Al- Ittihad al-’aqil wa al-ma’qul. Keidentikan atau kesatuan antara subyek yang mengetahui dengan obyek yang diketahui. Jadi dalam ‘ilmu hudhuriy, subyek = obyek. Maka terkadang ‘ilmu hudhuriy disebut pula sebagai ‘ilmu swa-obyek.

Maka, karena pada hakikatnya seluruh ‘ilmu adalah ‘ilmu hudhuriy, bagaimana menjelaskan ke-swaobyek-an seluruh ‘ilmu? Jika hal - hal yang diketahui adalah hal-hal yang memiliki eksistensi mental saja seperti konsep tentang titik, prinsip non-kontradiksi , dll, ini masih bisa dibayangkan, tapi jika yang diketahui adalah obyek material, bagaimana mungkin obyek material identik dengan subyek mental manusia yang jelas merupakan hal yang immaterial? Mungkin lebih berat lagi ke-musykilan yang diajukan Mulla Hadi Sabzavary, " Bagaimana mungkin segala hal yang termasuk dalam 9 kategori jatuh hanya dalam 1 kategori saja, yaitu kualitas?"

Sebagian filsuf berusaha memecahkan masalah ini dengan mengatakan bahwa, pada dasarnya pengetahuan manusia adalah bayangan (image) dari realitas yang ada. Tapi teori ini gugur dengan melihat banyak pengetahuan yang tidak merupakan bayangan dari apa pun, seperti prinsip non-kontradiksi, konsep titik, garis dan seluruh geometri. Seluruh prinsip niscaya rasional jelas bukan bayangan dari apa pun, bahkan seluruh hal yang inderawi akan kehilangan makna tanpa pra-eksistensi dari prinsip-prinsip ini.

Batas antara hal yang material dan immaterial ternyata fuzzy (tidak tegas). Karena materi disadari keberadaanya karena persepsi akan materi tersebut. Sedang persepsi jelas immaterial. Tidak mungkin bagi seseorang membedakan persepsi dalam mimpi yang immaterial dan persepsi dalam alam tak-mimpi yang material. Maka para wali mengatakan "Arwahuna ajsaduna, wa ajsaduna arwahuna" (Ruh-ruh kami adalah jasad-jasad kami, dan jasad-jasad kami adalah ruh-ruh kami) Yang membuat beda antara hal material dan immaterial jelas dan tegas seperti kutub utara dan kutub selatan hanyalah operasi mental manusia yang terlalu akrab dengan hal - hal yang kasat mata saja.

Dan, sebagai suatu quiditas yang memiliki wujud, secara emanatif wujud mempunyai jalur intellegebles hingga me-wujud-kan quiditas tersebut. Secara emanatif, artinya menurut teori emanasi atau al-ibda’, Dimitri qua dimitri bukan sesuatu apa pun. Tidak memiliki wujud. Bukan sesuatu yang maujud. Dimitri menjadi sesuatu pada saat, wujud-nya yang kopulatif terhubung pada wujud an-sich melewati satu jalur emanasi tertentu. Semua jalur emanasi bersatu pada tahapan wujud an sich dan akal pertama. Dan wujud an sich,- yang tidak termasuk dalam kategori apa pun, dan ada pada segala tanpa satu persatuan-, mungkin menjadi subyek dan obyek seluruh ilmu. Apakah ini yang disebutkan oleh Plato sebagai Idea, yang harus diingat kembali oleh orang yang ‘belajar’? Atau ini yang disebutkan oleh Aristoteles dan Mulla Shadra sebagai potensi ilmu yang harus diaktualisasikan oleh orang yang belajar?

Maka apakah berdzikir ? Meng-ada-kan satu-satunya Subyek dan Obyek yang ada. Melewati jalur-jalur kontra-emanasi (baca pula; Nama-Nama) tertentu. Hingga sampai pada wujud an sich. Suatu keadaan yang disebutkan dalam sebuah kitab sebagai berikut; ‘Ilme khuda dar ‘ilme shuufii gum syawad. Ilmu Tuhan tenggelam dalam ilmu sufi. Bagaimana orang kebanyakan bisa mengerti ?

Wallohu a’lam bis-showwab




Komentar Anda di rwblog.id adalah tanggapan pribadi, kami berhak menghapus komentar yang mengandung kata-kata pelecehan, intimidasi, dan SARA.
EmoticonEmoticon