Selasa, April 14, 2015

Cerpen Filsafat - Layang-Layang Tappu

Siang yang begitu menyiksa baru saja terlewati. Matahari entah mungkin lagi mengalami keresahan hubungan percintaan dengan wanitanya si bulan, hingga kekesalan hatinya dilampiaskan kepada bumi. Dari jam satu hingga kepukul tiga tiada yang berani untuk keluar dari rumahnya tanpa pelindung. Apalagi nekad untuk bertelanjang dada. Pasti akan mendidih.

Setelah waktu Ashar terlewati. Emosi keresahan matahari mulai menurun, mungkin planet Mars sudah memberikannya hiburan dengan pertunjukan kolosal sirkus meteor yang saling bertabrakan menghancurkan dua hati yang sedang galau. Atau matahari mendapat teguran cinta dari black hole yang bisa saja mengisap semua kekecewaan hati.  Atau bulan meminta maaf dan kembali mengitari poros-poros  di cakrawala angkasa cinta . Atau planet lain menjadi orbit nadi –nadi perdamaian antara matahri dan bulan. Entahlah.

Sore hari yang begitu indah disebuah desa yang diberi nama Bontojai. Anak-anak yang berwajah lugu dan polos dalam artian penuh dengan lumpur bercampur dengan kotoran. Entah kotoran tai ayam atau yang lebih ekstrim adalah kotoran tai kerbau. Panas yang tadi begitu mencekam tak jadi masalah bagi mereka, sejak pagi tadi mereka sudah melanglang persawahan, berlari melompati tingkasa (pematang) sawah, berenang pula melewati kali perairan demi mengejar layang-layang tappu. Siapa yang paling banyak mendapatkan layang-layang ditambah dengan tasi gallasa (benang) yang tergulung menutupi semua tangannya. Maka dialah yang akan menjadi rajanya. Padahal harga layang-layang digadde-gadde ( warung) cuman seharga 500 rupiah maksimal 2000 dengan tasinya. Tetapi ego untuk menjadi seorang yang dipuji-puji menjadi sensasi tersendiri.

Hari ini yang menjadi calon rajanya adalah i Aco. Seorang anak yang berkulit gosong dan baunya kayak kuaci harga 500 an. Rambutnya sudah tak beraturan bagai jalanan adipura yang selalu macet. bajunya sudah dipenuhi dengan lumpur. Wajahnya begitu cu’mala dan menco. Aco bagaikan baru saja bertempur didalam hutan amazon yang lebat tiga hari tiga malam tanpa makan tanpa minum juga tanpa bernafas. Tapi senyumannya begitu mempesona dan begitu sombong, dengan bangganya dia berdiri diatas sebuah bukit sambil mempersembahkan dirinya dihadapan semua teman-temannya yang menjadi pecundang hari itu. Tiga layang-layang jumbo, dua layang layang plastik, empat layang-layang merah putih terlilit didadanya. Dan tangannya sudah dipenuhi dengan tasi gallasa kualitas silet.  Si Aco benar- benar merasa dirinya sudah menjadi maestro layang-layang tappu dan semua teman-temannya yang nasib tubuhnya tak lebih baik dari pada Aco hanya bisa menjadi pecundang yang memuji muji sang pemenang.


Cerpen Filsafat : Layang-Layang Tappu
Cerpen Filsafat : Layang-Layang Tappu

Tapi ada satu hal lagi yang harus dilalui Aco untuk menjadi raja yang sebenarnya. Yaitu wawancara sesama pengejar layang-layang tappu. Yang paling banyak mendapatkan layang-layang harus menjawab satu pertanyaan dari yang kalah. Jika sang pemenang bisa menjawabnya maka sahlah dia menjadi seorang raja yang berkuasa selama tiga hari.  tapi apabila sang pemenang tak bisa menjawabnya maka semua layang layangnya harus diberikan kepada sang penanya dan sang calon raja batal menjadi raja. Namun peraturannya sang pemenang berhak menunjuk sendiri penanya yang akan mengajukan pertanyaan kepadanya.

Aco sudah mempercayakan dirinya pasti bisa menjawab pertanyaan apapun dan dari siapapun. Dan pertanyaan sesusah apa yang akan muncul dari otak lugu anak-anak umuran 12 tahun kebawah. Aco sudah melirik satu persatu wajah jelek kawan-kawannya. Dan dia tertarik dengan wajah kawannya yang bernama Ambo te’ne. Dari sekawanan pengejar layang-layang Bontojai, nampaknya Ambo te’nelah yang paling payah, ia tak pernah sedikitpun pernah mendapatkan layang layang selama seabad lebih. Kecepatan larinya setara dengan siput tanpa cangkang. Aco menggambarkannya sebagi anak kecil yang memiliki kualitas IQ yang paling rendah dari semua temannya. Dan Aco percaya diri Ambo te’ne tidak akan menyusahkannya.

“ Baiklah Aku memilih Ambo te’ne” ucap Aco sambil menunjuk kerah Ambo’ te’ne yang sedang sibuk mengupil. Bagi sebuah efek domino semua mata tertuju kearah Ambo te’ne. Dan Ambo te’ne hanya tersenyum dengan senyumannya yang sangat menyebalkan memperlihatkan giginya yang begitu hancur.

“ baiklah Ambo te’ne silahkan kau ajukan pertanyaan?”

Sambil menutup mata dengan memukul bibirnya dengan jari telunjuknya bekas tambang mengupil hidung . Ambo te’ne mencari sebuah pertanyaan. Agak lama ia mencari sebuah pertanyaan. Wajah jelek disekelilingnya sudah mulai bosan. Dan Aco semakin sombongnya tersenyum. Karena ia sudah tahu Ambo te’ne yang tolol itu tidak akan mendapatkan sebuah pertanyaan apapun.
“ apa yang kita ingat didalam sholat, mengapa kita harus mengingat Allah. Dan Allah itu siapa?” Pertanyaan yang begitu mempesona dari keluguan Ambo te’ne. membuat semua temannya mengagah sambil membelalakkan matanya. Apa lagi Aco yang sangat kaget mendengarnya, hampir saja dia mendapatkan serangan jantung. Dia tak mengira akan diberikan sebuah pertanyaan yang begitu gila. Bagaimanapun kerasnya Aco berpikir dia tidak bisa mendapatkan sebuah jawaban. Namun pertanyaan sudah terlanjur terpaparkan, dan dia harus menjawab. Ambo te’ne terus saja tersenyum dengan polosnya, memandang kepolosan itu Aco semakin stress. Dan tidak ada satupun kalimat yang ia dapatkan untuk menjawab pertanyaan itu.

“bagaimana saudara Aco apakah anda bisa menjawabnya? Kami sudah lama menunggumu” ucap salah satu anak. Membuat Aco semakin tertekan. Waktu semakin berlari kencang. Dan teman-teman Aco sudah semakin ribut mendesaknya membuat Aco semakin tersudut, semakin kehilangan asah mendapatkan sebuah jawaban yang masuk akal. Tapi dia harus mencoba dari pada harus kehilangan semua layang-layang tappu’nya.

“ yang kita ingat didalam Sholat adalah Allah. Kita harus ingat dengan Allah karena dia tuhanta’. Dan Allah itu adalah tuhanta’, itumi jawabanku” Aco mengucapkannya dengan keras.
“bagaimana Ambo te’ne apakah anda puas?” ucap salah seorang yang menjadi moderator.
Dengan senyuman menakutkannya Ambo te’ne berucap “ kalau memang Allah lah yang harus di ingat dalam sholat mengapa beberapa jama’ah ada yang mengantuk saat sholat. Apakah Allah menceritakan sebuah dongeng yang sangat membosankan ketika orang sholat. Dan beberapa jamaah juga sering menggaruk pantatnya saat sholat. Apakah dia mengibaratkan tuhan adalah seekor kutu? Apakah seperti itu persepsi pemikiran umat muslim saat menggambarkan tuhan dalam ingatannya. Dan saya akan kembali kepada pertanyaan dasarnya, mengapa harus Allah yang kita ingat dalam sholat?”
Semua mulut kembali menganga. Semua mata kembali membelalak Dan Aco hanya bisa berucap.

“ ngga kuat, ngga kuat, aku menyerah, aku menyerah. Ambilmi semua layang-layangku, ambil semuami Ambo te’ne. Mengakuma, kaumo jadi rajana”.

Malampun membungkus kejadian luar biasa tadi sekaligus mengherankan. Persawahan sudah gelap gulita, Aco dan Ambo te’ne sudah lama kembali kerumahnya. Wajahnya sudah kembali seperti manusia. Dan sekarang mereka sibuk mempersiapkan segala perlengkapan untuk sekolah besok. Tapi bagi Aco kekalahan telak tadi tidak bisa dia lupakan. Pertanyaan Ambo te’ne terus terngiang dikepalanya. Dan pertanyaan itu sudah mengganggu nuraninya menimbulkan penasaran yang begitu menggelora didalam hatinya. Dia ingin tahu jawaban yang paling tepat dari pertanyaan itu.
Setelah ayahnya Aco baru pulang dari masjid. Aco memutuskan untuk menyakan pertanyaan Ambo te’ne kepada ayahnya.
“ bapak ada mau kutanyakanki” ucapnya dengan sangat sopan sambil tersenyum.
“apa nak, bertanya’ moko?”
“ Siapa sebenarnya itu Allah. Kenapa haruski diingat kalau shalatki orang bapak?”
 “ oooooh, amma’na kesurupangi anaknu, ambilkangi cepat air dingin, na kusapuangi di muka’na.” Mata ayahnya membelalak, seolah baru saja melihat sebuah penampakan yang begitu menyeramkan. Dan ibu Aco dengan paniknya berlari sambil menggenggam segelas air dingin. Dan pertanyaan itu berakhir dengan dugaan Aco baru saja terserang roh halus alias kesurupan. Dan Aco tidak ingin lagi membahas pertanyaan itu dengan ayah dan ibunya.
Tak beda jauh nasibnya di sekolah. Aco sudah dipandang sebagi anak yang aneh. Terakhir kali ia bertanya kepada seorang guru agamanya. Jawaban yang ia dapatkan adalah.
“tobatko anak, sering-seringki baca ayat kursi kalau mauki tidurnah. Jangki lagi bertanya seperti itu. Dosaki itu.” Dan itu sebuah jawaban yang jelas tidak memuaskannya.
Pencaharian akan rasa penasaran itu terus menggodanya. Hampir sebulan sudah dia memikirkannya, membuatnya harus vakum dari pengejaran layang-layang tappu’. Bagaimana mau mengejar kalau semangat sudah tidak ada lagi. Hampir sebulan sudah dia menahan untuk berbicara dengan Ambo te’ne. Egonya masih terlalu besar dari pada kemurahan hatinya. Jadilah dia tersiksa hampir sudah sebulan dia dianggap sudah menjadi anak yang autis. Dan sudah beberapa kali dia dibawah oleh orang tuanya ke para sandro (orang pintar). Karena ayah dan ibunya mengira anaknya dimasuki oleh jin yang sangat kuat.
Hingga di suatu hari yang begitu panas. Matahari kembali bertengkar dengan bulan. Aco berjalan dengan mata yang kosong menuju camp persawahan untuk ngunjung(menerbangkan) layang layang. Unjungannya sudah begitu seimbang. Dan layang layang itu dengan mudahnya terbang dibawah angin. Layang layang itu sudah menari-nari diatas awan. Semakin diolor layang layang itu semakin tinggi. Dan Aco terus mengawasi layang layang itu dengan tajam dan begitu dalam, sangking dalamya muncullah bayang wajah menyebalkan Ambo’te’ne dihadapannya. Namun ia segera menyadarkan dirinya. Kemudian muncullah lagi pertanyaan Ambo te’ne dikepalanya. Namun kembali ia menyadarkan drinya.  Setelah lama tersiksa Aco seolah mendapatkan sesuatu yang membuatnya sangat senang. Dia dengan tiba-tiba berdiri dan berlari meninggalkan layang-layangnya yang terbang liar.
Ternyata Aco berlari kerah rumah Ambo te’ne. Setelah sampai dipintu rumah kawannya itu. Aco berteriak.
“ Amboooo, oooooo, ambooo” sambil mengetuk pintunya.
Dengan senyuman yang selalu menyebalkan dan selalu mengupil dengan jari telunjuk kanannya. Ambo te’ne membuka pintunya. Dan dengan polosnya ia berkata “ ada apa kau kemari Aco” dan kembali tertawa kecil lagi.
“ aku kemari ingin mengambil kembali layang-layang yang telah kau rebut dariku?” ucap Aco dengan semangat kemerdekaan.
“ hehehehe. Kalau kau menginginkan layang-layangmu kembali, maka jawablah pertanyaanku dulu. Mengapa Allah harus diingat ketika kita sholat.” Lalu Ambo te’ne tertawa kecil lagi.
“ setelah kupikirkan begitu lama tertanyata pertanyaanmu begitu mudah. Jawabannya adalah super subyektif.” Aco dengan percaya dirinya menyusun kalimat-kalimatnya.
“ hehehe mengapa bisa super subyektif”
“masing masing orang memiliki jawaban tersendiri ketika diberikan pertanyaan seperti itu. Dan semua jawaban pasti akan benar. Karena ini adalah masalah persepsi pribadi individu.”
“hehehehe lalu bagaimana persepsimu saudara Aco”
“tiada lain yang harus diingat ketika sholat selain Allah. Begitu juga ketika kita bermain layang-layang tiada yang harus diingat keculai fokus menaikkan layang- layang. Karena ketika kita tidak fokus saat menaikkan layang-layang. Maka layang-layang itu tidak akan pernah terbang. Begtu pula dengan sholat ketika kita tidak fokus  mengingat Allah maka secara hakikatnya  kita tidak sholat.”
“hehehehe lalu mengapa harus Allah yang diingat?”
“karena Sholat adalah pemberian Allah makanya hanya dia yang harus diingat ketika sholat. analoginya seperti ini. Ketika aku memberikanmu sebuah layang-layang Jumbo berwarna emas pasti kau akan senang. Maka ketika aku sudah tiada tetapi layang layang pemberianku masih kau miliki maka ketika kau melihat layang layang itu yang akan kau ingat adalah diriku. Seperti itu.”
“hehehe hehehe hehehe “ sungguh tawa ini sangat menyebalkan. Lalu Ambo te’ne berlari masuk kedalam rumahnya dan kembali membawa semua layang-layang yang sudah diambilnya dari Aco. Termasuk tasi gallsa’nya. Dengan tersenyum mereka berdua , berpelukan. Seperti teletubies.

Kemudian cerita selanjutnya Aco dan Ambo te’ne menikah. Dan hidup sakinah mawaddah warahmah. Luarbiasa kan endingnya, hancur. Tapi  ngga usah ambil ceritanya tapi sama-sama kita ambil hikmahnya. Dan hikmahnya adalah Ambo te’ne adalah seorang perempuan ternyata. Hikmah sesungguhnya lebih baik tidak usah dipaparkan. Seorang filosof selalu tau makna yang tersirat. Asyik.
Penulis : M'R

Komentar Anda di rwblog.id adalah tanggapan pribadi, kami berhak menghapus komentar yang mengandung kata-kata pelecehan, intimidasi, dan SARA.
EmoticonEmoticon