Selasa, September 29, 2015

Sang Pecinta hakikat cinta ke-Maha-annya

di siang hari Pangeran Rupawan berangkat ke medan perburuan -
moga hati kami tertembus sasaran panah kilat-kemilau mataNya
pesan apa yang ia bisikkan mesra lewat kedipan mataNya-
moga klopak mataku terbuka, riang dan mabuk oleh pesannya[1]

Sang pecinta hakikat cinta


KeMahaLuasan - Nya menggulung seluruh bahtera dan bahari, sungai dan samudera, bumi maupun segenap semesta. Sungguh Dia-lah Yang Maha Luas Rahmat-Nya, meliputi segala sesuatu, meleburkan seluruh batasan-batasan “rahmat-rahmat” maupun “azab-azab” yang terbatas dalam benak makhluknya. Wahai Ia Yang Maha Luas Ridha-Nya, Yang Maha Luas Ampunan-Nya, Yang Maha Luas Rizki-Nya, Yang Maha Luas Kasih-Nya, Yang Maha Luas dan meliputi segala.
Sungguh Pecinta - Nya menyadari ke-faqr-an hakikinya, dan hanya Dia - lah Yang Maha Kaya lagi Terpuji. Maka ridho atas semua yang telah dikehendaki oleh Ia Yang Maha Luas Kasih dan Rahmat-Nya adalah manifestasi ke-faqr-an total manusia atas apa pun termasuk atas pengetahuan tentang apa yang sebenarnya lebih baik dan lebih sempurna bagi dirinya sendiri. Dan sungguh Ilmu -Nya, Rahmat-Nya, Sentuhan Lembut-Nya, KeMahaCantikan-Nya meliputi semua maujudat (semua yang ada).
Harapan akan rahmat-Nya yang berlipat ganda yang tercermin dalam perintah-Nya pada Nabi-Nya yang telah sangat mendalam ‘ilmunya untuk berdoa pada-Nya, robbii zidnii ‘ilman[2] .. (Tuhanku, tambahkan bagiku ‘ilmu). Sangka baik (husnuzh-zhon) terus menerus pada-Nya merupakan tahapan awal yang benar untuk mencapai ke-ridho-an atas seluruh Yang Dikehendaki-Nya.. Yaa Allah, berilah aku tatapan atas Wajah - Mu nan Cemerlang, Yaa Allah, karuniakanlah aku Samudera Nikmat-Mu Yang Tiada Taranya, Yaa Allah, alirkanlah gelombang Cinta Pada Mu yang bergelora di aliran darah dan degup jantungku, Yaa Allah, karuniakanlah aku’ilmu tentang Rahasia-Rahasia Kendi Cinta-Mu, Yaa Allah ,……, Maka tatkala sesuatu yang terjadi kurang berkenan dengan yang di hati, sungguh sepatutnya kita bisikkan pada Nya, Yaa Allah Sungguh Keluasan RahmatMu tak terpahami oleh keterbatasan diriku dan kebodohan nafsuku, Duhai Tuhan Yang Maha Kasih.
Yang tak punya apa pun kecuali pinta
Yang tak bisa apa pun kecuali meminta
Yang papa dari apa pun kecuali harapan
Yang tak bersuara apapun kecuali ratapan

memohon pada Tuanku Pangeran, Nan Gemerlapan
meminta pada Rahmat Keabadian, Nang Kemilauan
sekilasan pandangan mata Layla, buat Majnun tergeletak pingsan
sekejapan keindahan kerlingan Tuan, buat hamba mati dengan senyuman
Maka Duhai Tuanku Pangeran, jika kau hendak berburu, jadikanlah aku kijang yang hendak Kau panah. Dan darah yang muncrat dari jantungku adalah kelojotan kasmaran hamba faqirMu ini. Sungguh panah kilatan asmaraMu adalah Ribuan Hikmah dan Keindahan, di dalamnya terdapat wewangian sang mahabidadari, sampaikanlah racun anggur cinta yang ada di ujung panah itu pada hatiku yang bodoh dalam kegelapan ini . di siang hari Pangeran Rupawan berangkat ke medan perburuan -moga hati kami tertembus sasaran panah kilat-kemilau mataNya pesan apa yang ia bisikkan mesra lewat kedipan mataNya-moga klopak mataku terbuka, riang dan mabuk oleh pesannya[3]
Demi Kemuliaan Muhammad dan Keluarga Muhammad.
wa allohu a’lam bi ash-showab
Sumber :
[1] Rumi, saduran dari terjemahan Abdul Hadi W. M, Pustaka, Bandung, hal. 67.
[2] QS 20;114
[3] Rumi, saduran dari terjemahan Abdul Hadi W. M, Pustaka, Bandung, hal. 67.






















Komentar Anda di rwblog.id adalah tanggapan pribadi, kami berhak menghapus komentar yang mengandung kata-kata pelecehan, intimidasi, dan SARA.
EmoticonEmoticon